IPB Badge

Baru beberapa hari menjejakan kaki di pasar ponsel, iPhone 4 langsung menuai kritik dari sejumlah pengguna. Sejumlah ‘cacat’ mulai dikeluhkan para pengguna iPhone 4.

Seperti dilansir BBC, Jumat (25/6/2010), keluhan paling banyak adalah lemahnya sinyal ponsel. Hal tersebut disebabkan karena Apple membenamkan antena di bagian bawah kiri, sehingga ketika digenggam sinyal akan mengganggu penerimaan sinyal.

“Ponsel ini menjadi tak berguna di negara ini,” kata Richard Warner, seorang pembeli iPhone 4 asal Inggris.

Warner mengatakan, sinyal akan hilang saat ia memegang ponsel dengan tangan kiri. “Perlahan sinyal bar berkurang hingga akhirnya menghilang,” katanya.

Selain itu, sejumlah pembeli juga melaporkan cacat pada layar. Meskipun mereka telah melakukan pengaturan warna, namun pada sejumlah iPhone 4 masih terdapat beberapa titik berwarna kuning.

Desain iPhone 4 yang menggunakan bahan stainless steel disinyalir juga mudah tergores. Dilaporkan, pada sejumlah iPhone terdapat bekas goresan.

Keluhan-keluhan mengenai iPhone 4 juga diunggah para pembeli ke situs berbagi video, YouTube. Bahkan ada video yang menampilkan hasil speed test dengan membandingkan kecepatan saat dipegang tangan dengan tidak menggunakan tangan alias handsfree

 Vendor komputer IBM meminta maaf kepada sejumlah pengunjung konferensi solusi keamanan, AusCERT di Australia karena telah menyebarkan malware. Pasalnya, USB drive yang dibagi-bagikan kepada pengunjung di booth milik IBM ternyata terinfeksi program jahat.

“Kami telah menemukan malware dari sebuah USB yang terinfeksi malware dan kami perkirakan semua USB yang kami bagikan kemungkinan terinfeksi semuanya,” kata Chief Technology IBM Australia, Glenn Wightwick seperti dilansir Cnet, Sabtu (22/5/2010).

Malware tersebut, lanjut Wightwick, terdeteksi dengan sejumlah produk anti virus yang ada saat ini, mengingat malware tersebut adalah malware tahun 2008.

“Malware akan bekerja saat pengguna menghubungkannya ke sistem operasi Microsoft Windows baik untuk workstation maupun server dimana setup.ini dan autorun.ini berjalan secara otomatis. Malware ini dikenal dengan sejumlah nama dan memuat setup.exe dan autorun.ini,” kata Wightwick.

Sementara itu, Randy Abrams, Direktur Pendidikan Teknik perusahaan keamanan ESET mengatakan, kasus seperti ini bukanlah yang pertama. Di tahun 2002, IBM juga pernah membagikan USB yang berisi virus.

Konferensi AusCERT, seringkali membagikan produk seperti USb yang memuat malware. Dua tahun lalu, di ajang yang sama, operator telekomunikasi Telstra juga menyebarkan malware kepada para pengunjung

Berkat teknologi, dunia kesehatan kembali dipermudah. Kali ini ilmuwan yang tergabung dalam World Community Grid yang didukung IBM, sukses mempercepat proses penemuan struktur protein yang berguna bagi pasien kanker.

Dengan bantuan komputer, ilmuwan akan mudah melakukan identifikasi struktur, bentuk dan interaksi protein dalam pertumbuhan kanker. Nantinya, komputer relawan akan terhubung satu sama lain.

“Dengan proyek ini pencitraan per protein enam kali lebih banyak dan mengurangi waktu pemrosesan,” ujar para ilmuwan yang tergabung dalam proyek tersebut, dikutip PC World, Jumat (26/6/2010).

Para ilmuwan juga melatih sistem ini untuk mengenali 80 persen pencitraan dengan unsur kristal dan 98 persen tetesan jernih dari solusi protein sebelum terkristalisasi.

Kristalisasi adalah faktor kunci penyelidikan proses biologis. Kristalisasi juga memungkinkan cahaya sinar X disorotkan ke sampel protein dan memantulkan ke berbagai arah. Para ilmuwan mengakui proses kristaliasi ini rumit hingga jutaan kali untuk mempercepat kristalisasi.

Proses identifikasi kristal melalui komputer ini mempercepat penelitian ilmu biologi dan penelitian genetika.

Seorang peneliti robotika asal Swiss telah menciptakan sebuah robot yang bisa terbang dan hinggap di dinding atau pohon.

Menurut peneliti, tujuan robot tersebut diciptakan agar dapat melakukan perjalanan di atas medan berat seperti daerah bencana. Apalagi, robot dilengkapi dengan sensor dan kamera kecil yang berbeda, mereka bisa digunakan di daerah bencana untuk mengirimkan informasi penting kembali ke pusat komando untuk menyelamatkan korban.

Kemampuan robot yang mirip serangga ini, mampu menempel pada hampir semua jenis permukaan, bahkan dinding beton.

“Kami tidak membabi buta meniru alam, tetapi menggunakan prinsip yang sama untuk kemungkinan memperbaiki kesulitan itu,” ujar Mirko Kovac, ilmuwan yang membuat robot tersebut dari Ecole Polytechnique Federale de Lausanne (EPFL).

“Perilaku seperti melompat, terbang dan bertengger memerlukan kontrol kompleks atas gerakan tanpa membutuhkan daya komputasi yang tinggi,” tambahnya, seperti yang dilansir TG Daily, Jumat (25/6/2010).

Kemampuan untuk bertengger, mampu menghemat energi yang berharga untuk memungkinkan robot untuk beristirahat, persis seperti yang dilakukan serangga atau burung.

Mekanisme bertengger sebelumnya membutuhkan manuver menukik rumit untuk mengurangi momentum dan mendarat di kaki. Nah, EPFL menghindari masalah ini dengan menggunakan dua lengan pegas dilengkapi dengan pin yang menggali ke permukaan.

Australia mampu mengikuti jejak langkah negara koloninya dengan menempatkan wanita di posisi Perdana Menteri. Adalah Julia Eileen Gillard, perempuan kelahiran Barry, Wales, 48 tahun yang lalu, telah resmi menggantikan Kevin Rudd untuk memimpin negara benua itu sejak 24 Juni 2010.

Selain disebut sebagai PM wanita pertama di Australia, Gillard juga dianggap sebagai perdana menteri Australia pertama yang belum pernah menikah.

Menjabat sebagai PM Australia merupakan prestasi tersendiri bagi politisi dari Partai Buruh ini. Sebelumnya dia dikenal sebagai Deputi Perdana Menteri di bawah mantan PM Kevin Rudd. Perempuan berambut pirang ini juga dikenal sebagai anggota Parlemen Australia yang mewakili Wilayah Lalor, Melbourne Barat sejak 1998 lalu.

Langkah politik Gillard hingga ke kursi PM Australia dimulai sejak di bangku kuliah. Di tahun kedua masa perkuliahan, Gilllar mulai bergabung bersama Klub buruh Australian Union of Student dan ikut dalam kampanye melawan pemotongan anggaran pendidikan di Australia pada 1983 silam.

Lulusan University of Melbourne 1986 ini sempat bekerja di sebuah firma hukum di Melbourne dan bahkan sempat ditunjuk sebagai rekan di firma hukum bernama Slater & Gordon at Werribee. Pada firma hukum ini, Gillard mengurusi masalah hukum yang terjadi di bidang industri.

Kedekatannya dengan bidang industri yang tentunya berhubungan dengan perburuhan, sepertinya membuat Gillard makin tertarik dengan politik. Pada 1996 hingga 1998, dia sempat diangkat sebagai Kepala Staf dari John Brumby, yang saat itu merupakan pemimpin oposisi pemerintahan Kota Victoria. Selama masa ini, dia bertanggung jawab menyusun aturan dalam Partai Buruh di Victoria.

Pada masa ini juga dia menargetkan agar perempuan di Australia meraih 35 persen suara dalam waktu satu dekade. Dia juga terus aktif dalam Yayasan EMILY’s List, sebuah yayasan yang memberikan dana bantuan kepada buruh wanita di Australia.

Sejak saat itu karir perempuan yang memiliki seorang pasangan hidup yang berprofesi sebagai penata rambut ini, terus melonjak tajam. Pada tahun 1998 ia terpilih sebagai anggota Parlemen Australia dan memberikan pidatonya pertama kali di depan parlemen pada 11 November 1998. Sejak saat itu pun citra Partai Buruh makin melekat pada dirinya.

Setelah kekalahan Partai Buruh pada Pemilu 2001, Gillard terpilih sebagai Kabinet Bayangan Australia dengan menjabat sebagai Menteri Populasi dan Imigrasi pada periode 2001 hingga 2003. Kabinet bayangan sendiri merupakan kabinet bentukan pihak oposisi pemerintah, yang terdiri dari kalangan yang berseberangan dengan Pemerintah Australia saat itu.

Pada Februari 2003 dirinya diberikan jabatan tambahan sebagai Menteri Rekonsiliasi warga Pribumi Australia dan didapuk menjadi Menteri Kesehatan pada kabinet bayangan pada 2003 hingga 2006. Pada kurun waktu tersebut rivalitas Gillard dengan pemimpin Partai Liberal Australia Tony Abbot.

Saat Partai Buruh kembali mengalami kekalahan di Pemilu 2004, perempuan pengagum politisi Wales Nye Bevan ini sempat disebut-sebut akan memimpin Partai Buruh. Dia sempat berhadapan dengan Jenny Macklin untuk memperebutkan kursi deputi pimpinan Partai Buruh, namun Gillard menolak untuk berkompetisi. Hal serupa juga terjadi pada Mark Latham mengundurkan diri dari kursi pimpinan Partai Buruh pada Januari 2005.

Gillard bersama dengan Kim Beazley dan Kevin Rudd merupakan calon kuat pengganti Latham. Kendati pada akhirnya Gillard lagi-lagi menolak untuk berkompetisi dari perebutan kursi ketua Partai Buruh.

Partai Buruh akhirnya menang dalam pemilu federal 2007 dan Gillard pun ditunjuk sebagai Deputi PM wanita pertama Australia, di bawah pimpinan mantan PM Kevin Rudd. Dia juga didapuk sebagai “Menteri Super” karena juga menjabat sebagai menteri pendidikan, menteri pekerja dan hubungan antar pekerja dan menteri sosial.

Pada 11 Desember 2007, Julia Gillard menjadi wanita pertama di Australia yang memegang peranan sebagai perdana menteri, saat Kevin Rudd menghadiri Konferensi Perubahan Iklim PBB di Bali. Ia sempat menjabat sebagai Pejabat Sementara Perdana Menteri Australia selama 69 hari.

Gebrakan bagi Gillard terjadi dalam beberapa hari terakhir, ketika dirinya akhirnya didapuk sebagai Perdana Menteri Australia pada 24 Juni. Naiknya Gillard sebagai Perdana Menteri wanita pertama Australia, tidak lepas dari pengunduran diri yang dilakukan oleh Kevin Rudd.

Gillard yang dikenal dekat dengan Rudd mengadakan pertemuan mantan Perdana Menteri Australia tersebut dalam kapasitasnya sebagai pimpinan Fraksi Buruh. Dalam keterangan pers usai pertemuan tersebut, Kevin Rudd menyatakan jika Julia Gillard memintanya untuk mundur sebagai pimpinan Partai Buruh atau mengadakan pemilihan untuk menentukan pimpinan Partai Buruh, sekaligus meletakan jabatan sebagai PM Australia. Hal ini sesuai dengan hasil pemungutan suara sementara dari kaukus Partai Buruh, yang 115 anggotanya mendukung Gillard.

Rudd sebelumnya menyatakan akan menantang Gillard dalam pemilihan Ketua Partai Buruh, namun beberapa jam sebelum penghitungan suara berlangsung Rudd memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan ketua karena semakin jelas jika dirinya tidak mampu menghadang laju dukungan terhadap Gillard.

Tidak lama kemudian Gillard akhirnya diambil sumpahnya oleh Gubernur Jenderal Quentin Bryce. Disaat bersamaan Wayne Swan pun dipilih sebagai pendamping Gillard sebagai Deputi Perdana Menteri Australia. Dalam pidato penerimaannya, Gillard menyebut Pemerintahan Kevin Rudd yang dinilai telah kehilangan Arah.

Sebagai perdana menteri teranyar Australia, Julia Gillard mengaku akan mendorong kebijakan yang sempat mandek dalam Pemerintahan Kevin Rudd. Agenda tersebut antaranya skema pengurangan emisi karbon, penerapan sistem pengamanan internet dan penerapan pajak keuntungan industri sumber daya alam. Gillard diperkirakan akan menjadikan program penyekatan rumah sebagai agenda utamanya dalam menjalankan pemerintahannya.